Nayla,
Wanita Pemilih Peniti
Judul buku : Nayla
Jenis buku : Fiksi
Pengarang : Djenar Mahesa Ayu
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : 2005
Tebal buku : 180 hlm.
Harga : Rp 20.000,00
Novel Djenar yang berjudul “Nayla” ini merupakan novel karya Djenar yang terbaru yang seperti
novel-novel sebelumnya yaitu Mereka
Bilang Saya Monyet, Menyusu Ayah, Jangan Main-main dengan Kelaminmu dan
lain sebagainya. Seperti karya-karya sebelumnya, novel Nayla ini menceritakan
tentang seks. Djenar dalam novel ini menceritakan seorang tokoh yang bernama
Nayla. Nayla seorang perempuan yang suka
merokok dan ngompol hingga menjelang umur 10 tahun pun ia masih saja ngompol.
Kehidupan dewasa Nayla tambah tidak karuan seperti suka berhubungan seks, suka
bercinta, minum-minuman (anggur)
dan lain sebagainya. Singkatnya, buku
ini menceritakan secara gamblang tentang berbagai kehidupan yang menyangkut
Nayla dan tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan seks.
Nayla, seorang perempuan yang suka merokok dan
ngompol. Menjelang umur 10 tahun pun ia masih saja ngompol. Semenjak kecil, setiap
malam Nayla ditusuk paha kakinya dengan peniti oleh ibunya. Hal tersebut dilakukan
oleh Ibu memang disengaja, sampai-sampai vaginanya pun juga ditusuki dengan
peniti. Ibu melakukan itu supaya nayla tidak malas-malasan membuang urine ke kamar mandi. Pertama kalinya
terasa sakit namun akhirnya Nayla mulai terbiasa dengan perlakuan tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan masih kerap hadir di
kepalanya. Ia masih saja heran mengapa setiap malam ngompol di celana padahal
ia benar-benar tak tahu kenapa tak pernah terbangun untuk membuang urine yang sudah memenuhi kandung
kemihnya.
Sikap kasar
itu tak pernah dipikirkan oleh ibunya, kenapa ibu tak bisa berpikir bahwa tak
akan ada seorang pun anak yang memilih ditusuki vaginanya dengan peniti hanya
karena ingin mempertahankan rasa malas. Sehingga sosok ibu bagi seorang Nayla
tak ubahnya seorang monster. Padahal ia ingin melihat ibu seperti ibu-ibu lain
yang sayang pada anaknya. Sosok ibu yang dikenalnya justru membuat jiwa dan
raga anaknya terluka. Bahkan Nayla pun berkata, tak ingin memilih Ibu ketimbang
punya Ibu yang mengharuskannya memilih peniti.
Nayla
juga dirundung perasaan yang tak kalah hebohnya sejak berumur 2 tahun. Nayla
sudah ditinggal cerai kedua orangtuanya. Sebenarnya Nayla lebih memilih ayah daripada ibunya hingga akhirnya
Nayla lari dari rumah. Kemudian tidak lama dalam pelarian tersebut, akhirnya Nayla menemukan
rumah ayahnya dan pada kenyataannya ayahnya tersebut sudah beristri lagi. Nayla
hidup bahagia bersama ayahnya, Namun tidak lama kemudian ayahnya meninggal
dunia dikarenakan sakit.
Sejak
kematian ayahnya, Nayla sedikit mengalami perubahan. Ia frustrasi dan kecewa,
seperti membolos dan suka tertawa-tawa sendiri. Keganjilan ini diketahui oleh
ibu tirinya. Kemudian, Nayla dituduh pengguna Narkoba. Dengan akal licik ibu
tirinya dan meminta izin ibu kandungnya, Nayla dijebloskan ke rumah Perawatan
Anak Nakal dan Narkotika. Nayla tak tahan, dengan usaha keras, ia bisa kabur
dari tempat itu bersama-sama dengan temannya. Nayla tidak pulang ke rumah dan
ia menumpang ke tempat temannya. Ia mulai belajar hidup mandiri. Ia mulai bekerja apa saja, seperti merampok dan mencuri.
Kehidupan Nayla tambah tidak karuan. Nayla
sering tidur di emperan toko, terminal dan sembarang tempat. Suatu saat Nayla
melamar pekerjaan dan akhirnya ia diterima di diskotek sebagai juru tembak
lampu. Sejak bekerja di diskotek pergaulan Nayla semakin brutal. Nayla sering
minum-minuman (anggur), menjadi wanita yang suka bercinta pada pria, suka
melakukan seks pada lawan jenis hingga sesama jenispun ia juga suka melakukan
hubungan seks. Ia pernah berkata kepada Juli (kekasihnya) dia lebih puas
berhubungan seks dengan Juli katimbang dengan laki-laki lain yang pernah
dicobanya hingga 9 laki-laki padahal Juli merupakan seorang perempuan.
Hari
demi hari Nayla lalui. Berbagai konflik mulai muncul pada
dirinya, baik pertentangan terhadap dirinya sendiri maupun reaksi lingkungan
sekitarnya. Misalnya, ia putus dengan pacarnya, berpisah dengan ibunya, teman
wanitanya, sampai ia berubah profesi menjadi penulis. Di dalam diri tokoh
kadang-kadang timbul persepsi negatif tentang makna kehidupan. Berkat
kegigihannya, akhirnya Nayla sukses menjadi penulis.
Novel ini
merupakan novel fiksi. Nayla seorang tokoh yang diceritakan sebagai perempuan yang
suka ngompol hingga vagina Nayla ditusuki peniti oleh ibunya. Nayla yang suka
merokok, berhubungan seks dan juga minum-minuman. Hal itu memang benar-benar
dialami tokoh pada realita kehidupan nyata. Novel ini dibandingkan dengan karya
Djenar yang sebelumnya yaitu “ Mereka
Bilang Saya Monyet”. Kali ini Djenar lebih berani mengungkapkan, menggugah
pembaca bahwa tidak selamanya wanita yang perawan itu harus sakit ketika
melakukan hubungan seks pada malam pertama, Djenar menentang paham tersebut. Djenar
menantang paham tradisional tersebut. Sedangkan pada novel “Mereka Bilang Saya Monyet” lebih
menekankan pada perasaan walaupun pada kenyataannya dalam novel tersebut
perilaku manusia tidak kalah hinanya dengan perilaku binatang.
Kelebihan novel
ini adalah pada gaya bahasa yang metropolis (Jakarta), Djenar dengan tegas dan
jelas mengukapkan lebih detail mengenai seks sehingga menarik minat pembaca.
Kekurangan novel ini yaitu terletak pada isi antara sub pokok satu ke lainnya
sehingga membuat pembaca menjadi bingung. Pada akhirnya saya senang dan senang
membaca novel ini. Novel ini layak untuk diterbitkan ke khalayak umum. Terima kasih dan semoga
bermanfaat.

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking