Woensdag 26 Junie 2013

Resensi Novel Nayla



Nayla, Wanita Pemilih Peniti

Judul buku           :    Nayla
Jenis buku            :    Fiksi
Pengarang            :    Djenar Mahesa Ayu
Penerbit               :    PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun                  :    2005
Tebal buku           :    180 hlm.
Harga                   :    Rp 20.000,00  

Novel Djenar yang berjudul “Nayla” ini merupakan novel karya Djenar yang terbaru yang seperti novel-novel sebelumnya yaitu Mereka Bilang Saya Monyet, Menyusu Ayah, Jangan Main-main dengan Kelaminmu dan lain sebagainya. Seperti karya-karya sebelumnya, novel Nayla ini menceritakan tentang seks. Djenar dalam novel ini menceritakan seorang tokoh yang bernama Nayla. Nayla seorang perempuan yang suka merokok dan ngompol hingga menjelang umur 10 tahun pun ia masih saja ngompol. Kehidupan dewasa Nayla tambah tidak karuan seperti suka berhubungan seks, suka bercinta, minum-minuman (anggur) dan lain sebagainya. Singkatnya, buku ini menceritakan secara gamblang tentang berbagai kehidupan yang menyangkut Nayla dan tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan seks.
Nayla, seorang perempuan yang suka merokok dan ngompol. Menjelang umur 10 tahun pun ia masih saja ngompol. Semenjak kecil, setiap malam Nayla ditusuk paha kakinya dengan peniti oleh ibunya. Hal tersebut dilakukan oleh Ibu memang disengaja, sampai-sampai vaginanya pun juga ditusuki dengan peniti. Ibu melakukan itu supaya nayla tidak malas-malasan membuang urine ke kamar mandi. Pertama kalinya terasa sakit namun akhirnya Nayla mulai terbiasa dengan perlakuan tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan masih kerap hadir di kepalanya. Ia masih saja heran mengapa setiap malam ngompol di celana padahal ia benar-benar tak tahu kenapa tak pernah terbangun untuk membuang urine yang sudah memenuhi kandung kemihnya.
Sikap kasar itu tak pernah dipikirkan oleh ibunya, kenapa ibu tak bisa berpikir bahwa tak akan ada seorang pun anak yang memilih ditusuki vaginanya dengan peniti hanya karena ingin mempertahankan rasa malas. Sehingga sosok ibu bagi seorang Nayla tak ubahnya seorang monster. Padahal ia ingin melihat ibu seperti ibu-ibu lain yang sayang pada anaknya. Sosok ibu yang dikenalnya justru membuat jiwa dan raga anaknya terluka. Bahkan Nayla pun berkata, tak ingin memilih Ibu ketimbang punya Ibu yang mengharuskannya memilih peniti.
Nayla juga dirundung perasaan yang tak kalah hebohnya sejak berumur 2 tahun. Nayla sudah ditinggal cerai kedua orangtuanya. Sebenarnya Nayla lebih memilih ayah daripada ibunya hingga akhirnya Nayla lari dari rumah. Kemudian tidak lama dalam pelarian tersebut, akhirnya Nayla menemukan rumah ayahnya dan pada kenyataannya ayahnya tersebut sudah beristri lagi. Nayla hidup bahagia bersama ayahnya, Namun tidak lama kemudian ayahnya meninggal dunia dikarenakan sakit.
Sejak kematian ayahnya, Nayla sedikit mengalami perubahan. Ia frustrasi dan kecewa, seperti membolos dan suka tertawa-tawa sendiri. Keganjilan ini diketahui oleh ibu tirinya. Kemudian, Nayla dituduh pengguna Narkoba. Dengan akal licik ibu tirinya dan meminta izin ibu kandungnya, Nayla dijebloskan ke rumah Perawatan Anak Nakal dan Narkotika. Nayla tak tahan, dengan usaha keras, ia bisa kabur dari tempat itu bersama-sama dengan temannya. Nayla tidak pulang ke rumah dan ia menumpang ke tempat temannya. Ia mulai belajar hidup mandiri. Ia mulai bekerja apa saja, seperti merampok dan mencuri.
             Kehidupan Nayla tambah tidak karuan. Nayla sering tidur di emperan toko, terminal dan sembarang tempat. Suatu saat Nayla melamar pekerjaan dan akhirnya ia diterima di diskotek sebagai juru tembak lampu. Sejak bekerja di diskotek pergaulan Nayla semakin brutal. Nayla sering minum-minuman (anggur), menjadi wanita yang suka bercinta pada pria, suka melakukan seks pada lawan jenis hingga sesama jenispun ia juga suka melakukan hubungan seks. Ia pernah berkata kepada Juli (kekasihnya) dia lebih puas berhubungan seks dengan Juli katimbang dengan laki-laki lain yang pernah dicobanya hingga 9 laki-laki padahal Juli merupakan seorang perempuan.
Hari demi hari Nayla lalui. Berbagai konflik mulai muncul pada dirinya, baik pertentangan terhadap dirinya sendiri maupun reaksi lingkungan sekitarnya. Misalnya, ia putus dengan pacarnya, berpisah dengan ibunya, teman wanitanya, sampai ia berubah profesi menjadi penulis. Di dalam diri tokoh kadang-kadang timbul persepsi negatif tentang makna kehidupan. Berkat kegigihannya, akhirnya Nayla sukses menjadi penulis.
Novel ini merupakan novel fiksi. Nayla seorang tokoh yang diceritakan sebagai perempuan yang suka ngompol hingga vagina Nayla ditusuki peniti oleh ibunya. Nayla yang suka merokok, berhubungan seks dan juga minum-minuman. Hal itu memang benar-benar dialami tokoh pada realita kehidupan nyata. Novel ini dibandingkan dengan karya Djenar yang sebelumnya yaitu “ Mereka Bilang Saya Monyet”. Kali ini Djenar lebih berani mengungkapkan, menggugah pembaca bahwa tidak selamanya wanita yang perawan itu harus sakit ketika melakukan hubungan seks pada malam pertama, Djenar menentang paham tersebut. Djenar menantang paham tradisional tersebut. Sedangkan pada novel “Mereka Bilang Saya Monyet” lebih menekankan pada perasaan walaupun pada kenyataannya dalam novel tersebut perilaku manusia tidak kalah hinanya dengan perilaku binatang.
Kelebihan novel ini adalah pada gaya bahasa yang metropolis (Jakarta), Djenar dengan tegas dan jelas mengukapkan lebih detail mengenai seks sehingga menarik minat pembaca. Kekurangan novel ini yaitu terletak pada isi antara sub pokok satu ke lainnya sehingga membuat pembaca menjadi bingung. Pada akhirnya saya senang dan senang membaca novel ini. Novel ini layak untuk diterbitkan ke khalayak umum. Terima kasih dan semoga bermanfaat.