RINGKASAN
Puasa itu Sehat
Allah SWT mewajibkan orang-orang yang beriman untuk
menjalankan puasa selama satu bulan, yaitu pada
bulan Ramadhan, sebagimana firman-Nya, yang berarti “ Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada
orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari
tertentu ”. (QS. Albaqarah: 183-184)
Nabi
Muhammad Saw juga berpesan kepada umatnya, “ Berpuasalah kamu, tentu kamu akan
menjadi sehat”. Pernyataan Nabi
SAW tersebut juga
merupakan langkah yang lebih maju dari pernyataan- pernyataan para ahli
kesehatan dewasa ini. Terbukti ketika berpuasa, sekitar 600 miliar sel dalam
tubuh menghimpun diri agar dapat bertahan hidup. Besarnya kekuatan yang
dihasilkan oleh mekanisme puasa tentu saja tidak terlepas dari kekuasan dan
karunia Allah SWT. Mekanisme puasa tidak
hanya berpengaruh pada kesehatan jasmani saja, melainkan juga kesehatan rohani
pelakunya.
1. Pengaruh
Puasa terhadap Kesehatan Jasmani
Manusia
mempunyai cadangan energi yang disebut glikogen. Cadangan yang didapat dari
karbohidrat ini dapat bertahan selama 25 jam. Dengan demikian, mereka yang
menjalankan puasa tidak perlu khawatir menjadi sakit karena tubuh mempunyai
mekanisme ilmiah untuk mempertahankan dirinya. Bahkan, dengan berhimpunyan 600
miliar sel selama seseorang berpuasa, daya tubuh seseorang semakin tangguh. Pengaruh mekanisme puasa terhadap kesehatan jasmani meliputi berbagai aspek, yaitu aspek perlindungan, pencegahan, dan pengobatan.
a) Memberikan
kesempatan istirahat
pada alat pencernaan.
Makanan yang masuk kedalam tubuh
memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam yaitu empat jam diproses di lambung dan empat
jam di usus kecil. Jika makan sahur dilakukan pukul 4 pagi, maka pukul 12 siang
proses pencernaan selesai berarti kurang lebih 6 jam proses pencernaan
mengalami istirahat total. Hal ini terjadi selama satu bulan.
b) Membebaskan
tubuh dari racun, kotoran, dan ampas.
Pada tubuh manusia terdapat sampah
berbahaya seperti tinja, urine, dan keringat. Dengan berpuasa, yang berarti
membatasi suplai makanan yang masuk kedalam tubuh, penumpukan racun, kotoran,
dan sampah dapat dicegah, sehingga tubuh bebas dari racun, kotoran, dan ampas.
c) Membuat
kulit lebih sehat dan berseri.
Setiap
saat tubuh mengalami metabolisme, yakni peristiwa perubahan dari energi yang terkandung dalam zat gizi menjadi energi
potensial dalam tubuh. Ketika berpuasa, cadangan energi yang tersimpan dalam
tubuh dikeluarkan, sehinggga melegakan pernapasan organ-organ tubuh serta
sel-sel penyimpanya. Peristiwa ini lazim disebut peremajaan sel, oleh klarena
itu tidak mengherankan bila orang yang sering berpuasa, kulitnya akan terlihat
segar dan lembut.
d) Memblokir
makanan untuk bakteri, virus, dan sel kanker.
Dengan menghentikan pemasukan
makanan (puasa), kuman-kuman penyakit, bakteri-bakteri, dan sel-sel kanker
tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama
sel-sel yang telah mati dan toksin.
e) Menambah
jumlah sel darah putih dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Menurut hasil penelitian di
Universitas Osaka, Jepang, tahun 1930, setelah memasuki hari ke-7 berpuasa sel
darah putih orang-orang berpuasa bertambah. Penambahan sel darah putih ini
pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih ini secara otomatis meningkatkan kekebalan tubuh.
f) Meningkatkan
daya serap tubuh.
Berdasarkan
ilmu gizi, umumnya orang hanya dapat menyerap gizi sebanyak 35% dari gizi
makanan yang dikonsumsinya. Dengan berpuasa, penyerapan gizi dapat mencapai
85%. Dengan beristirahatnya proses pencernaan, alat-alat pencernaan menjadi
lebih giat mereduksi dan menyerap makanan yang dikonsumsi. Logikanya, bila
efisiensi pencernaan bertambah, daya serap tubuh terhadap gizi menguat.
g) Menyeimbangkan
kadar asam dan basa dalam tubuh.
Menurut ilmu tubuh, perbandingan
zat kimia yang bersifat alkali dan asam di dalam tubuh manusia harus seimbang.
Dengan menjalani puasa zat-zat yang bersifat asam di dalam darah dapat
dikurangi dan dijaga agar sifat alkalinya lemah sehingga tercapai keseimbangan
antara keduanya.
h) Memperbaiki
fungsi hormon.
Pada saat-saat tertentu (sedih,
gembira, cemas,
dll) kelenjar endokrin menghasilkan zat-zat kimia yang mengeluarkan hormon. Jika fungsi-fungsi hormon berjalan
normal, irama tubuh menjadi harmonis. Keadaan ini dapat diperoleh ketika
berpuasa, orang-orang yang berpuasa bersikap sabar, mampu menahan amarah, dan
senatiasa berserah diri kepada Allah SWT.
i)
Meningkatkan fungsi organ reproduksi.
Terjadi perubahan metabolik pada
saat menjalankan puasa, terutama pada kelangsungan kelenjar-kelenjar ebdokrin.
Kelenjar endokrin indung telur menghasilkan lebih banyak estrogen dan
progesterone. Kadar oksigen dan progesterone yang tinggi itulah yang dapat
meningkatkan fungsi organ reproduksi yang berarti pula meningkatkan kesuburan.
j)
Meremajakan sel-sel tubuh.
Pada saat kita menjalankan puasa organ-organ
tubuh pada posisi rileks, sehingga sel-sel tersebut memiliki kesempatan untuk
memperbaiki diri. Sel-sel baru terbentuk pada lapisan dalam yang kemudian
mendesak sel-sel tua untuk keluar. Sel-sel yang sudah tua ini segera mati saat
mencapai permukaan dan kemudian mengelupas.
k) Meningkatkan
fungsi organ tubuh.
Dengan berpuasa berarti memberikan
kesempatan interval selama kurang lebih 14 jam organ-organ tubuh (lambumg,
ginjal, dan liver). sehingga tubuh tidak menerima masukan makanan dan minuman
hal tersebut akan menimbulkan efek rangsangan,
yaitu menghasilkan, memulihkan, dan meningkatkan fungsi organ-organ
sesuai dengan fungsi fisiologisnya, misalnya panca indra menjadi lebih tajam.
l)
Meningkatkan fungsi
susunan saraf pusat.
Seorang muslim mengawali puasa
dengan niat yang ikhlas dan rela karna Allah Swt. Dengan keikhlasan dan
keprasahan yang tulus, susunan saraf akan berada dalam keadaan tenang,
seimbang, dan tenang.
2. Pengaruh
Puasa terhadap Kesehatan Jamani.
Selain bermanfaat bagi kesehatan
jasmani, berpuasa melatih rohani atau jiwa manusia agar lebih baik. Temuan terakhir dunia
kedokteran jiwa membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan derajat perasaan
atau Emotional Quotien (EQ) manusia.
Secara psikologis manusia tidak hanya di ukur atau dinilai dari derajad
kecerdasan atau Intelegence Quotient
(IQ)-nya, tetapi juga diukur dari
EQ-nya.
Meningkatkannya kemampuan
mengendalikan diri ketika berpuasa erat hubungannya dengan meningkatkan EQ
seseorang karena orang yang berpuasa terlatih untuk bersabar, tenang, dan tidak
cemas. Selain itu berpuasa juga meningkatkan iman dan takwa, mengatasi dan
mencegah stress, rasa tertekan, frustasi, dan depresi. Lebih dari itu puasa juga
akan menghilangkan penyakit-penyakit hati yang dapat mengganggu kesehtan jiwa,
seperti dendam, iri, riya’, dan takbur.
Dari segi kesehatan mental, puasa
erat kaitnya dengan kemampuan mengendalikan diri. Puasa merupakan wahana
penempatan mental hingga seseorang kuat dan mampu bertahan menghadapi ujian dan
cobaan serta siap menghadapi perjuangan dan pengorbanan yang lebih berat. Puasa
dapat melatih kedisiplinan dalam mengendalikan diri.
